Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 24 Juli 2018

Adab Membaca Al-Qur'an

Al-Qur’an adalah kitab yang agung dan mulia, menjadi petunjuk bagi umat manusia, dan menyempurnakan kitab-kitab samawi yang diturunkan sebelumnya. Kemuliaan al-Qur’an tidak lain karena ia adalah kalamullah yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Mulia kepada makhluk pilihannya yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad melalui perantaraan malaikat Jibril. Barangsiapa memuliakan al-Qur’an, maka Allah akan memuliakannya di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menghinakan al-Qur’an, maka ia akan dihinakan oleh Allah di dunia dan akhirat.

Membaca al-Qur’an adalah kemuliaan dan amal shalih yang sangat agung, bahkan merupakan dzikir yang paling utama. Kemuliaan dan keutamaan ini menuntut seseorang untuk memperhatikan adab-adab saat membacanya. Tujuannya tidak lain adalah sebagai bentuk memuliakan al-Qur’an, juga untuk mendapatkan keberkahan dan keutamaan darinya.

Adab-Adab Membaca Al-Qur’an
Berikut ini adalah adab-adab yang harus diperhatikan ketika membaca al-Qur’an:

1. Ikhlas
Adab yang pertama dan paling utama bagi orang yang hendak membaca al- Qur’an adalah ikhlas semata-mata mengharap pahala dan ridha Allah. Membaca al-Qur’an merupakan ibadah yang menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, menghadirkan niat di dalamnya adalah wajib. Dimana Rasulullah bersabda :
“Setiap amalan tergantung niatnya. Dan setiap orang hanya diganjar menurut apa yang diniatkannya.” (HR. al-Bukhari, no. 1)

2. Membaca dalam Keadaan Suci
Membaca al-Qur’an merupakan dzikir yang paling utama.Oleh karena itu, dianjurkan bagi orang yang membaca al-Qur’an hendaknya dalam keadaan suci/berwudhu. Rasulullah bersabda :
“Saya tidak menyukai untuk berdzikir kepada Allah melainkan dalam keadaan suci/berwudhu.” (HR. Abu Dawud, no. 17)

Orang yang berhadats kecil boleh membaca al-Qur’an. Meskipun yang lebih utama adalah dalam keadaan suci. Adapun bagi yang berhadats besar (karena haidh, nifas atau junub), para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.
Jumhur ulama, termasuk imam madzhab yang empat berpendapat bahwa orang junub tidak boleh membaca al-Qur’an. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ali,
“Tidak ada yang menghalangi Nabi dari membaca al-Qur’an kecuali junub.” (HR.Ahmad, no. 1011)

Sementara Madzhab Zahiriyah berpendapat bahwa orang junub boleh membaca al-Qur’an. Pendapat ini juga dipilih oleh al-Bukhari, Ibnu al-Mundzir, ath-Thabari, asy-Syaukani, dll. (Lihat Mukhtashar Fiqhi ath-Thaharah, hal 366-367)

Jumhur fuqaha’ selain Imam Malik juga berpendapat bahwa orang yang haidh atau nifas haram baginya membaca al-Qur’an. Dalilnya adalah hadits Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda:
“Janganlah orang yang haidh dan junub membaca sesuatu pun dari al-Qur’an.”(HR. at-Tirmidzi, no. 131)
Adapun Madzhab Malikiyah memandang orang yang haidh atau nifas boleh membaca al-Qur’an. (lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 33/58-59)
Adapun masalah menyentuh atau memegang mushaf, para ulama sepakat bahwa orang yang berhadats, baik hadats besar atau kecil, tidak boleh menyentuh atau memegang mushaf. Hal ini didasarkan atas firman Allah yang artinya :
“Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.” (QS. al-Waqi’ah: 79)

3. Berada Di Tempat Yang Suci
Disunnahkan membaca al-Qur’an ditempat yang bersih dan suci, khususnya masjid. Karena masjid adalah tempat yang paling suci dan mulia. Di samping itu, juga akan mendapatkan keutamaan lain saat membacanya di dalam masjid. Tidak boleh membaca al-Qur’an di kamar mandi atau WC dan tempat buang kotoran.

4. Memakai Siwak
Orang yang hendak membaca al- Qur’an disunnahkan untuk memakai siwak atau yang sejenisnya, seperti sikat gigi agar mulutnya bersih dan segar. Dan salah satu waktu yang sangat dianjurkan untuk memakai siwak ialah ketika hendak membaca al-Qur’an. Rasulullah bersabda,
“Siwak membuat mulut menjadi suci (bersih) dan menjadikan Allah ridha.” (HR. an-Nasa’i, no. 5)

5. Duduk Menghadap Kiblat
Dianjurkan membaca al-Qur’an dengan posisi duduk menghadap kiblat jika membacanya di selain shalat dan dalam kondisi yang senggang. Karena posisi ini lebih mendatangkan konsentrasi, semangat dan rasa khusyu’. Membaca sambil berdiri dan berjalan juga tidak terlarang. Bahkan banyak ulama dan para penghafal al-Qur’an yang memanfaatkan waktu berjalan menuju ke masjid, sekolah, tempat kerja, pasar dan yang lainnya sembari membaca al-Qur’an, baik lewat hafalannya maupun dengan melihat mushaf.

6. Membaca Ta’awudz
Disunnahkan untuk membaca ta’awudz sebelum membaca al-Qur’an. Hal ini didasarkan kepada firman Allah yang artinya :
“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. an-Nahl: 98)

7. Membaca Basmalah Pada Setiap Awal Surat
Disunnahkan untuk membaca basmalah, yaitu بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ pada setiap awal surat, kecuali surat at-Taubah, karena mayoritas ulama berpendapat bahwa basmalah termasuk ayat al-Qur’an.
Apabila membaca al-Qur’an dimulai bukan dari awal surat, maka tidak disunnahkan untuk membaca basmalah, cukup baginya membaca ta’awudz, yaitu

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم .

Namun demikian, jika basmalah tetap dibaca, hal itu juga baik. Jika dimulai dari awal surat, maka keduanya dibaca (membaca ta’awudz terlebih dahulu, baru kemudian basmalah).

8. Membaca Dengan Tartil
Dianjurkan membaca al-Qur’an secara tartil sebagaimana firman Allah yang artinya,
“Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.”(QS. al-Muzzammil:4)
Dari Qatadah, ia berkata,
“Anas bin Malik pernah ditanya tentang bagaimana bacaan Nabi maka ia menjawab :‘Bacaan beliau sangat memperhatikan mad (panjang pendek bacaan).’ lantas Anas bin Malik memberi contoh dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim, yaitu dengan memanjangkan bismillaah, kemudian arrahmaan dan arrahiim.” (HR. al-Bukhari, no. 5046)

Az-Zarkasi berkata : “Tartil, minimalnya ialah membaca al-Qur’an dengan mentafhimkan lafadznya (menebalkan bacaan huruf-huruf yang harus dibaca tebal), jelas dalam pengucapan huruf-hurufnya, dan tidak boleh meng idhamkan suatu huruf yang bukan haknya. Adapun tartil yang paling sempurna ialah membaca al-Qur’an sesuai dengan kedudukan huruf-hurufnya, menipiskan bacaan jika lafadznya memang harus tipis, dan menebalkan bacaan jika lafadznya harus tebal.” (Al-Itqan Fii Ulumil Qur’an, 1/368)

9. Mentadaburi Bacaan al-Qur’an
Tadabur adalah tujuan utama dan paling agung dari membaca al-Qur’an. Karena al-Qur’an diturunkan bukan hanya menjadi bacaan lisan semata, melainkan untuk dihayati, dimaknai dan diamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Allah berfirman, artinya,
“Kitab (al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29)

Di antara bentuk tadabur ialah sebagaimana yang terdapat dalam hadits Auf bin Malik, ia berkata :
“Saya pernah shalat bersama Nabi. Beliau memulai dengan memakai siwak, berwudhu, kemudian berdiri untuk shalat. Lantas beliau memulai shalatnya dan membaca surat al-Baqarah, jika melewati ayat tentang rahmat, beliau berhenti dan berdoa, dan jika melewati ayat tentang siksa, beliau berhenti dan memohon perlindungan.” (HR. an-Nasa’i, no. 1132)

Hadits ini menunjukkan bahwa tadabur Qur’an hanya bisa dilakukan jika mengerti makna ayat-ayat yang dibaca. Oleh karena itu, penting sekali untuk belajar bahasa arab agar bisa memaknai ayat-ayat al-Qur’an, atau paling tidak membaca al-Qur’an dengan diiringi membaca terjemah maknanya.

10. Membaguskan Bacaan
Disunnahkan untuk membaguskan bacaan al-Qur’an, yaitu dengan memperindah suara saat membacanya. Namun demikian, tidak boleh berlebih-lebihan sehingga keluar dari hukum-hukum tajwid yang ada.
Dari Al-Bara’ bin ‘Azib, Rasulullah bersabda, “Hiasilah al-Qur’an dengan suara-suara kalian.” (HR. an- Nasa’i, no. 1016)

11. Mengeraskan dan Merendahkan Bacaan
Sebagian ulama mengatakan, “Dianjurkan untuk mengeraskan sebagian bacaan al-Qur’an dan melirihkan sebagiannya. Karena orang yang merendahkan bacaan terkadang merasa malas sehingga ia harus mengeraskannya, dan orang yang mengeraskan bacaan terkadang merasa lelah sehingga harus beristirahat dengan melirihkan bacaannya.” (Al-Itqan Fii Ulumil Qur’an, 1/374)
Dari Uqbah bin Amir Al-Juhani, Rasulullah bersabda :
“Orang yang mengeraskan bacaan al-Qur’an seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan, dan orang yang melirihkan bacaan al-Qur’an seperti orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi.” (HR. Abu Dawud, no. 1335)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
“Allah tidak mengizinkan terhadap suatu perbuatan sebagaimana Dia mengizinkan Nabi untuk membaguskan suara dalam melagukan al-Qur’an dengan suara yang keras.” (HR. Muslim, no. 1883)


Imam Nawawi berkata,“Cara mengkompromikan kedua hadits tersebut bahwa melirihkan bacaan al-Qur’an lebih utama bagi mereka yang takut riya dan menganggu orang-orang yang sedang shalat maupun yang lainnya. Akan tetapi, jika mengeraskan bacaan tidak membuatnya khawatir dari perbuatan riya dan tidak mengganggu orang lain, maka mengeraskannya lebih utama karena amalannya lebih banyak, faidahnya sampai kepada orang-orang yang mendengarkan, menggugah hati si pembaca, membuatnya semangat untuk tadabur, menjadikan pendengarannya fokus, menghilangkan rasa kantuk dan menambah semangat.” (al-Majmu’, 2/166)

12. Sujud Tilawah Saat Membaca Ayat-Ayat Sajdah
Disunnahkan sujud tilawah saat membaca ayat-ayat sajdah. Dari Ibnu Umar ia berkata, “Nabi membacakan sebuah surat untuk kami yang di dalamnya terdapat ayat sajdah. Kemudian beliau sujud, maka kami pun bersujud sampai-sampai salah seorang dari kami tidak mendapati tempat untuk sujud.” (HR. al-Bukhari, no. 1075)
Demikianlah beberapa adab-adab membaca al-Qur’an yang harus diperhatikan oleh seorang muslim. Mudah-mudahan ulasan singkat ini mendorong kita untuk lebih dekat lagi dalam berinteraksi dengan al-Qur’an, baik dengan membaca, mentadaburi, mempelajari, mengamalkan dan mengajarkannya. Wallahu a’lam.

(Saed as-Saedy)
Referensi:
1.At-Tibyan Fii Adab Hamalatil Qur’an, An- Nawawi, Dar Ibnu Hazm.
2.Al-Itqan Fii Ulumil Qur’an, As-Suyuthi.
 
Published: By: Unknown - 04.46

Jumat, 13 Februari 2015

Merenunglah Sejenak

Segala puji bagi Allah rabb dan sesembahan kita, Dzat yang mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tak terkecuali manusia, Anda dan saya, yang telah berfirman, artinya,
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Qs. Yunus : 3)

Saudaraku, satu di antara sekian banyak urusan yang diatur oleh Allah adalah kita, manusia sejak sebelum kita berada di dunia ini hingga nanti kita berada di hadapan pengadilan Allah yang Maha Adil. Maka, marilah kita merenung sejenak tentang perjalanan hidup kita yang tidak lain merupakan pengaturan Allah. Hal ini kita lakukan sebagai salah satu bentuk pelaksanaan perintahNya di dalam kitabNya, yang artinya, 
Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan? (Qs. adz Dzariyat : 21)

Asalmu Setetes Air Mani yang Hina

Allah berfirman, menjelaskan asal muasal dirimu, wahai manusia, anak keturunan Adam , artinya, Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (Qs. al-Insan : 1-2)

Jadi, asalmu adalah setetes air mani yang bercampur. Dan, Allah mensifati air tersebut dengan “air yang hina”. Dia berfirman, yang artinya, Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina ? (Qs. al-Mursalat : 20). Dia juga berfirman, artinya, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (Qs. as-Sajdah : 7-8)

Ketika menjelaskan makna, firman Allah, “air mani yang bercampur” , Ibnu Abbas mengatakan, yakni, air mani lelaki dan air mani perempuan bila bergabung dan bercampur, kemudian ia mengalami perubahan fase demi fase, berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lainnya, berubah dari satu warna kepada warna yang lainnya (Tafsir Ibnu Katsir, 8/285). Allah menggambarkan secara global fase demi fase tersebut, Dia berfirman, artinya, Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (Qs. al-Mukminun : 14)

Engkau Berada di Dalam Rahim, Terlahir, Hidup, lalu Mati, Kemudian akan Dibangkitkan

Allah berfirman, artinya, Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah(yakni, Adam) kemudian dari setetes mani(yakni, anak keturunannya), kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya (Qs. al-Hajj : 5)

Di dalam rahim

Cobalah Anda renungkan, siapakah yang telah mengatur kehidupanmu saat berada di dalam rahim dengan sebuah pengaturan yang sedemikian lembut ? bagaimana Anda memperoleh asupan makanan sehingga dapat tumbuh dan berkembang ? siapakah gerangan yang mengatur mekanisme sari-sari makan yang dikonsumsi ibu Anda sampai kepada Anda melalui aliran darah seperti halnya pohon yang menyerap air sementara Anda berada di tempat yang sangat sempit ?

Keluar dari dalam rahim

Setelah tiba batas waktu Anda berada di dalam rahim, lalu Anda keluar ke dunia ini. Siapakah yang mengatur mekanisme keluarnya Anda melalui pintu yang sedemikian sempit sementara Anda memiliki fisik yang sekian kali lebih besar daripada pintu yang Anda keluar darinya tersebut ? lalu, bagaimanakah kondisi Anda saat itu ? Bukankah Dzat yang Maha Lembut pengaturannyalah yang mengatur mekanisme tersebut ? Bukankah Anda saat itu dalam kondisi lemah?, Bukankah pada saat itu Anda tak mengenakan sehelai kain pun ?, Bukankah Anda juga pada waktu itu tak memiliki pengetahuan sedikitpun ?, Allah berfirman tentang diri Anda, artinya, Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (Qs. an-Nahl : 78)

Dalam Sapihannya…

Setelah itu Anda berada dalam masa sapihan ibu Anda, siapakah yang memberikan kepada Anda asupan terbaik ? bagaimana air susunya itu yang telah sekian kali Anda hisap, dalam jangaka waktu yang cukup lama ± 2 tahun tak habis-habisnya padahal tempat penampungannya sedemikian kecil ukurannya ? bagaimana pula dengannya badan Anda memiliki ketahanan tubuh, sehingga tubuh Anda pun semakin kuat ?. sehingga nantinya Anda mampu mengonsumsi berbagai jenis dan bentuk makanan dan minuman lainnya. Allah menyebutkan sosok manusia yang dijadikan sarana sampainya nikmat ini kepada Anda, (artinya), Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan (Qs. al-Baqarah : 233)

Lalu, siapakah yang menjadikan ibu Anda mampu memahami tangisan Anda tatkala Anda menangis menginginkan air susunya ? lalu Anda berada pada pelukan tubuhnya dan belaian lembut tangannya ? sehingga, Anda pun berhenti menangis karena rasa dahaga Anda terobati dengan kucuran ASI yang mengucur melewati tenggorokan Anda, Andapun dibuat nyaman oleh karena dekapan hangat penuh kasih sayang ibu Anda. Saudaraku, Tidakkah hal ini mengingatkan Anda akan jasa besar tak terbalaskan yang dipersembahkan oleh ibu Anda kepada Anda ? apakah justru Anda melupakannya atau mengingatnya dengan baik namun justru Anda membalas jasa besarnya tersebut dengan keengganan Anda untuk menaati perintah baiknya, Anda membalasnya dengan penghinaan dan cacian kata yang membuat hatinya terluka atau bahkan Anda mengusirnya dari rumah tempat ia berteduh sehingga membuat hidupnya terlunta-lunta lagi sengsara karena kecintaan Anda lebih berpihak kepada pasangan hidup Anda atau anak-anak Anda. Wal ‘iyadzu billah. Di manakah orang yang pandai bersyukur kepada Rabbnya dan pandai bersyukur pula kepada orang yang telah banyak jasanya kepadanya ? bukankah rabb yang telah menciptakannya berfirman, mengingatkannya, artinya, Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. (Qs. Luqman : 14)

Saat Kuat dan Saat Lemah

Setelah Anda melewati serangkaian tahapan yang menunjukkan kondisi Anda yang lemah, sampailah Anda setelah itu kepada sebuah tahapan yang menunjukkan kondisi Anda yang kuat, namun hendaknya Anda tidak lupa bahwa akan tiba saatnya kekuatan Anda memudar sehingga Anda menjadi makhluk yang lemah kembali sebagaimana kondisi Anda yang begitu lemah di awal awal proses kehidupan Anda, dan sangat boleh jadi kini ada di antara Anda yang sudah merasakan sebagian dari kelemahan itu,
Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. (Qs. ar-Ruum : 54)

Oleh karena itu, wahai Anda yang masih memiliki sisa-sisa kekuatan, gunakanlah untuk perkara yang bermanfaat bagi kehidupan Anda di dunia terlebih di akhirat kelak, karena akhiratlah tempat kehidupan Anda yang abadi. Bukankah Allah berfirman, artinya, Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui (Qs. al-Ankabut : 64)

Saatnya Meninggal Dunia

Kehidupan manusia telah Anda saksikan sendiri karena Anda juga bagian dari mereka, saat kelahiran dan kematian pun Anda telah menyaksikannya, dan Anda pun -yang kini masih hidup- pasti akan seperti mereka yang telah mendahului Anda, Rabb Anda berfirman, artinya, Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (Qs. al-Anbiya : 35)

Hanya, kapankah tiba gilaran Anda ? sungguh Anda tak mengetahui rahasia rabb Anda ini, Rabb Anda menegaskan, artinya, Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. Luqman : 34)

Akhir yang Baik Ataukah Akhir yang Buruk ?

Akhir yang baik ataukah akhir yang buruk dari kehidupan Anda di dunia ini pun Anda tidak mengetahui, meski begitu harapan Anda tentunya yang pertama bukan yang kedua. Betapa banyak atau sering kali Anda mendengar atau bahkan menyaksikan sendiri tentang kehidupan seseorang yang diawal-awal kehidupannya sedemikian baik namun akhir kehidupannya ditutup dengan keburukan. Ada juga yang Anda dapati sebaliknya, diawal kehidupannya penuh dengan keburukan namun kemudian mengalami perubahan menjadi penuh dengan kebaikan hingga akhir hidupnya ia tutup dengan kebaikan pula. Oleh karenanya, yang terpenting bagi Anda adalah terus mengisi kehidupan Anda dengan kebaikan sesuai dengan petunjuk rabb Anda Allah yang dibawa oleh RasulNya Muhammad mudah-mudahan hal ini mengantarkan Anda kepada penutupan kehidupan Anda yang baik pula. Wallahu a’lam

Referensi :
1.Manilladzi Dabbaraka Bi-althafi at-Tad-biir, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah 
2.Tafsiir al-Qur’an al-Azhim, Abu al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir 


source from http://www.alsofwah.or.id

Published: By: Unknown - 01.24

 

Become a Fan